Jonathan Livingstone Camar

Jonathan Livingstone Camar

Jonathan Livingstone Camar

Ada sebuah novel ditulis oleh Richard Bach dan menjadi best seller pada tahun 1973. Novel tersebut berjudul “Jonathan Livingstone Seagull” atau dalam bahasa Indonesia Jonathan Livingstone Camar. Yuk simak kisah nya.

Pada pagi itu sinar matahari bersinar amat cerahnya,..buih ombak pun terihat sangat anggun bergerak menuju pantai, tidak jauh dari pantai itu terlihat kapal penangkap ikan yang baru saja pulang dari tengah laut hendak merapat ke pelabuhan…dan pemandangan ini pasti selalu diiringi dengan sekumpulan burung camar yang hendak mencari makan di sekitar pelabuhan, jumlah burung camar itu banyak sekali.

Tidak jauh dari kumpulan itu, terlihat ada seekor burung camar yang sendirian sedang melatih terbang rendah di atas permukaan air, nama camar itu adalah Jonathan Livingston Camar, Jonathan belajar tidak kenal lelah, bereksperimen, ooh mungkin paruh saya harus mendongak, ooh mungkin ekor saya harus ke atas dan segala macam gaya dicobanya untuk sekedar dapat terbang rendah dan perlahan di atas permukaan air.

Tidak banyak burung camar yang belajar terbang seperti Jonathan, mereka kebanyakan hanya terbang secukupnya saja, yaa sekadar untuk cari makan, jadi terbang adalah alat untuk mencari makan, tapi hal ini tidak berlaku buat Jonathan, bagi Jonathan bukan makan yang menjadi tujuannya tetapi terbangnya itu sendiri yang utama.

Ibunya bilang, kenapa Jonatahan? Kenapa kamu tidak seperti burung-burung yang lain? Kenapa kamu belajar terbang rendah? Kamu kan bukan Pelikan, biar burung pelikan saja yang terbang rendah.

Jonathan menjawab. Tidak apa-apa Bu, saya hanya mau tahu saja, sampai sejauh manakah kemampuan saya terbang? Apa yang bisa saya lakukan dan apa yang tidak mampu saya lakukan.

Ayah Jonathan memperingatkan, ingat Jonathan, alasan kamu terbang adalah supaya kamu dapat makan, kalau kamu mau belajar,  yaa belajarlah bagaimana caranya cari makan!

Keesokan harinya Jonathan mulai melaksanakan perintah orang tuanya, yaitu menjadi sama dengan camar yang lain, mencari makan di pelabuhan, berebut ikan kecil atau kepala ikan yang dibuang nelayan dan berebut roti kering milik nelayan.

Ternyata Jonathan Livingstone Camar sama sekali tidak menyukai hal ini dan di hari-hari berikutnya Jonathan Livingstone Camar terlihat lagi sendiri, belajar untuk terbang, seni terbang, kali ini yang dipelajarinya adalah bagaimana caranya terbang secepat mungkin.

Waktu ke waktu berlalu, Jonathan terus berlatih dan terus berlatih untuk terbang cepat, kali ini kecepatannya 20 km perjam, lalu bereksperimen lagi mencoba bagaimana kalau sayapnya terlipat, bagaimana caranya kalau harus berhenti tiba-tiba, mencoba lagi, gagal lagi, gagal lagi.

Jonathan menukik dari ketinggian awan menuju ke dalam laut dengan kepantasan sangat tinggi, lagi-lagi dia gagal menemukan cara yang efektif untuk menambah kecepatannya, sampai suatu saat ketika dia sedang menyelam di air ia mendengar suara kecil yang aneh, suara itu berkata. Sudahlah Jonathan Livingstone Camar, engkau itu burung camar, pastinya kemampuan kamu terbatas, kalau kamu terlahir untuk belajar, maka tentunya Tuhan akan memberi kamu otak yang besar, kalau kamu memang diciptakan untuk dapat terbang cepat tentunya kamu akan diberikan sayap kecil seperti burung Elang dan makananya adalah tikus atau ikan berdaging, bukan ikan kecil.

Jonathan Livingstone Camar berfikir, saya mesti segera menghentikan eksperimen saya ini, saya mesti pulang ke rumah dan mulai bertingkah laku seperti layaknya burung camar, terbang bersama-sama, berebutan ikan kecil dan menjadi camar yang serba terbatas.

Jonathan Livingstone Camar

Beberapa hari kemudian Jonathan merasa senang, dia merasa keputusan yang diambilnya sudah tepat, dia tidak perlu lagi harus berpenat lelah melatih otot terbangnya, tidak perlu lagi bangun pagi, tidak perlu lagi membuat sebarang alasan, tidak perlu lagi menatang diri, dan tidak akan ada lagi kegagalan dalam hidupnya.

Ketika merenung tersebut Jonathan melihat burung Elang dengan sayap kecil yang terbang melintas, entah kenapa perhatian Jonathan Livingstone Camar tertuju kepada burung yang cepat sekali terbangnya itu Jonathan Livingstone Camar menemukan idea. Oooh ya memang betul, saya harus melipat sebahagian sayap saya ketika menukik, sehingga benturan dengan angin menjadi kecil dan saya pasti dapat menukik dan terbang dengan cepat, tanpa harus kehilangan keseimbangan.

Tidak lama kemudian Jonathan Livingstone Camar kembali menyendiri berlatih terbang di tengah laut, jauh dari pelabuhan, Jonathan Livingstone Camar sangat bahagia, kerana saat ini dia sudah menemukan metode baru untuk terbang cepat, demikian hari-hari Jonathan diisi dengan mempelajari cara terbang terus menerus, sampai akhirnya Jonathan menemukan cara terbang paling cepat dengan kecepatan yaitu 45 km per jam. Jonathan Livingstone Camar bahagia sekali.

Sekarang Jonathan telah menemukan alasan kenapa dia hidup, alasan yang lebih baik dari pada hanya sekedar berebut ikan kecil yang dibuang nelayan. Jonathan Livingstone Camar berkata dalam hati, Ooo ternyata kita adalah mahluk Tuhan yang sempurna dan pandai, kita makhluk yang bebas merdeka, kita boleh belajar terbang.

Bulan demi bulan berlalu kemampuan terbang Jonathan Livingstone Camar sekarang sudah mengagumkan, yaitu 60 km perjam, sementara rata-rata burung camar hanya 15 km per jam maksimum 20 km per jam.

Pada suatu hari Jonathan Livingstone Camar dipanggil oleh dewan pimpinan burung camar di wilayahnya. Jonathan Livingstone Camar sangat senang, dia beranggapan dirinya akan diberikan penghargaan kerana sudah menjadi camar dengan rekor terbang tercepat di sana.

Ternyata dugaan Jonathan meleset jauh sekali. Jonathan Livingstone Camar dipanggil Dewan pimpinan ternyata untuk menerima keputusan bahawa mulai saat itu Jonathan diasingkan kerana tingkah lakunya tidak seperti kebanyakan burung camar, hal ini dianggap memalukan sebab dianggap tidak menerima kudrat sebagai burung camar.

Tali persaudaraan kita sebagai burung camar mulai hari ini putus! demikian ucapan pimpinan burung camar. Ingat Jonathan, suatu hari nanti kamu akan mengerti bahwa yang kamu lakukan adalah tidak benar dan tidak bertanggung jawab. Hidup itu adalah misteri, tidak akan terpecahkan dan tidak perlu dipecahkan, terimalah takdir bahwa tujuan kita hidup adalah untuk makan itu saja dan kita harus hidup selama mungkin.

Jonathan membela diri, tidak bertanggung jawab? Yang Mulia Ketua, saya sekarang sudah menemukan arti hidup yang lebih tinggi, selama bertahun-tahun kita hanya berebut-rebut dengan ikan kecil atau kepala ikan yang dibuang oleh para nelayan, sekarang saya sudah menemukan arti sebuah kehidupan yang sebenarnya, yaitu untuk belajar, untuk menemukan suatu hal yang baru, kebebasan untuk menjadi apapun, mohon beri saya kesempatan untuk mendemonstrasikan apa yang sudah saya temukan.

Tetapi para penonton dan semua yang menghadiri sidang itu hanya tertunduk diam, tidak memberi sebarang komentar atau saran, mungkin kerena takut kepada Ketua Burung Camar, sehingga keputusan pimpinan menjadi sah dan Jonathan pun diasingkan, tidak ada yang berani mendekati nya lagi.

Demikianlah Jonathan akhirnya dibuang, diasingkan dan hidup menyendiri di bukit yang jauh, Jonathan lagi-lagi belajar terbang untuk lebih cepat lagi, bagaimana supaya bisa tidur sambil terbang, bagaimana cara terbang pada saat hujan, bagaimana cara terbang ketika ada badai, bagaimana cara terbang kalau malam hari, bagaimana terbang lebih cepat lagi tanpa merasa khawatir, dan hasilnya dengan kemampuan terbangnya, Jonathan saat ini memiliki kemampuan makan ikan segar yang kecil mau pun yang besar, dari daerah pantai maupun dari laut dalam, kapan pun dia suka, tanpa harus berebut.

Sering Jonathan merenung dan ingin marah, tetapi setelah difikirkan lagi dia mengambil kesimpulan dan pelajaran dari apa yang dialaminya sekarang, ternyata rasa bosan, rasa takut, dan kemarahan lah yang membuat burung camar menjadi berumur lebih pendek dan apabila semua hal ini hilang dari kepala dan dari hati nya, maka pasti hidupnya menjadi lebih panjang.

Pada suatu petang ketika Jonathan sedang terbang cepat sendiri, tiba-tiba datang lah 2 ekor burung camar yang bisa menyusul Jonathan, sayapnya berkilauan, paruhnya pun sangat bersih, kemudian Jonathan menukik mereka pun menukik. Ke kiri, mereka pun ke kiri, persis seperti kapal terbang yang sedang beraksi akrobatik. Jonathan pun bingung ternyata ada juga ya burung camar yang terbangnya secepat dan sebaik dia.

Jonathan pun berkenalan dengan mereka, Jonathan menceritakan kisah hidupnya kepada kedua kenalannya kenapa saat ini dia terbang sendiri dan tidak bersama dengan kelompoknya seperti burung camar yang lain. Kemudian, kedua burung itu menceritakan tentang mereka tentang dari mana mereka berasal. Mereka berasal dari tempat yang namanya tanah Surga dan menurut mereka karana kemampuan terbang Jonathan sudah baik, maka dia boleh diajak ke tanah surga untuk bertemu dengan kelompok mereka, kelompok burung yang senang untuk belajar terbang.

Kelompok ini adalah kelompok burung camar yang berfikir sama dengan Jonathan, yaitu bahwa hal yang paling penting dilakukan dalam hidup adalah untuk mencapai dan menuju sesuatu kesempurnaan dari hal yang paling dicintainya, tanpa berfikir panjang Jonathan pun setuju. Oke kata Jonathan, dan akhirnya mereka bertiga terbang bersama ke tanah surga.

Waktu demi waktu berlalu dengan cepat, Jonathan sudah hampir melupakan pantai tempat kelahirannya di tanah surga ini Jonathan mempunyai pelatih terbang yang sangat hebat namanya Chiang.

Chiang berkata lembut tapi bermakna untuk membolehkan kamu terbang cepat, secepat kilat kita harus mulai dari BERFIKIR bahwa kita sudah sampai di tujuan triknya adalah janganlah berfikir tentang keterbatasan sayap yang besar, badan yang besar kaki yang bengkok dan sebagainya jadi caranya adalah sadarilah bahwa kamu adalah mahluk yang paling sempurna, sangat sempurna, tidak ada batas yang membatasi.

Chiang berkata lagi. Lupakanlah takdir, takdir ditangan Tuhan tetapi nasib ditangan kita. Kamu tidak perlu takdir untuk membolehkan kamu terbang cepat yang kamu perlukan adalah pengertian tentang terbang cepat. Kita bebas untuk menentukan apa pun yang kita inginkan dan bebas untuk menjadi siapa pun yang kita mau selamat tinggal kawan.

Setelah berkata demikian, Chiang terbang dan menghilang dengan cepat sekali itulah kalimat yang paling diingat oleh Jonathan, setelah berguru kepada Chiang, kini kemampuan terbang Jonathan sudah di atas 100 km perjam dan Jonathan sudah memutuskan untuk kembali ke bumi, untuk memberikan latihan untuk menyempurnakan kemampuan terbang kepada anak-anak muda di sana itulah tujuan hidupnya.

Setelah kembali di tanah kelahirannya Jonathan membuka sekolah terbang tak lama kemudian datanglah Maynard seekor camar yang patah sayapnya. Hai Jonathan apakah saya dibolehkan masuk ke sekolah kamu. Jonathan menjawab. kamu bebas untuk menjadi diri kamu sendiri, diri kamu yang sebenarnya, di sini sekarang dan tidak ada yang dapat membatasi atau menahan kemauan kamu ini adalah prinsip hidup kita. Jadi menurut kamu saya boleh terbang?? Saya katakan kamu adalah camar yang bebas menentukan siapa diri mu.

Demikianlah Jonathan sekarang mengajarkan seluruh kemampuan terbangnya kepada seluruh muridnya. Diantara seluruh muridnya ada seekor burung camar yang bernama Fletcher yang kemauannya untuk belajar sangat tinggi Jonathan seperti melihat dirinya sendiri ketika masih muda pada akhir cerita ini Fletcher diangkat oleh Jonathan untuk menggantikan posisi Jonathan sebagai guru dan mentor.

Tidak lama kemudian Jonathan memanggil Fletcher. Fletcher, kamu sudah tidak perlu saya lagi, yang kamu perlukan sekarang adalah latihan untuk menemukan diri kamu sendiri, yaitu Fletcher yang bebas, fletcher yang tidak membatasi diri, tanpa batas. Didiklah murid-murid di sini dengan seluruh kemampuan mu, jadikan itu visi kamu, selamat tinggal Fletcher.

Setelah berkata demikian Jonathan terbang, cepat sekali, tinggi sekali, berkilauan, Fletcher hanya melihat dari bawah, bergumam…selamat jalan Jonathan.

Kisah ini didedikasikan untuk Burung Camar yang bernama Jonathan yang hidup di dalam diri kita masing-masing.