Kenapa Perlu Belajar Mind Map

Kenapa Perlu Belajar Mind Map

Kenapa Perlu Belajar Mind Map? Mind Map atau Peta Pikiran adalah tools otak yang sebenarnya sangat powerfull. Bila tubuh memerlukan olah raga, maka otak kita memerlukan mind map ini. Orang-orang menyebutnya dengan Brain Gym (Senam Otak).

Mind Map ditemukan oleh Tony Buzan, seorang Psikolog berkebangsaan Inggris pada awal 1970-an. Tony Buzan terilhami oleh pengalamannya pada saat beliau masih kuliah yang juga dialami oleh sebagian besar teman-temannya, dimana beliau dan teman-temanya itu merasakan kesulitan-kesulitan dalam belajar. Mereka sering mengalami ketinggalan mencatat, lupa dengan pelajaran yang baru diajarkan, kesulitan menangkap inti dari pelajaran, lambat dalam membaca, dan sebagainya.

Pengalaman dan kesulitan pada saat kuliah ini kemudian menemukan solusinya setelah Tony Buzan mempelajari perkembangan mutakhir dari bidang ilmu neuroscience, seperti karya dari Roger S. Sperry, seorang pemenang Nobel karena temuan tentang kompetensi otak, yang menyimpulkan bahwa ternyata otak kita terdiri dari dua belahan (hemisphere), yakni otak kiri dan otak kanan dengan kompetensi yang berbeda. Otak kiri memiliki kompetensi lebih ke akademik, seperti logika, bahasa, matematika, sekuensial, struktural dan analitis. Sementara otak kanan memiliki kompetensi lebih ke ritmik, visual, imajinatif, intuitif, kreativitas, dan sintesis.

Neuroscientist lain yang temuannya berpengaruh pada konsep mind map adalah Robert Ornstein, yang memaparkan struktur otak manusia yang terdiri dari Bern Sterm (Otak Reptil), Limbic Systam (tempat emosi), dan Neocortex (tempat berpikir), serta bagaimana otak manusia bekerja.

Tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan yang lebih detil tentang morfologi sel syaraf (neuron), komunikasi sel syaraf, jumlahnya yang sangat fantastis, yakni 100 M – 1 Trilyun Neuron, serta perilakunya pada saat otak kita sedang bekerja (berpikir, mengingat, membaca, menulis, bekerja).

Berdasarkan itu, Tony Buzan mengembangkan sebuah teknik mencatat, yang kemudian disebutnya dengan Mind Map. Bentuk Mind Map serupa dengan bentuk sebuah sel syaraf, dimana topik utama adalah inti sel, kemudian cabang-cabang dari topik utama tadi adalah dendrit-dendrit dan akson-akson yang keluar dari inti sel.

Contoh Mind Map

mind-map-otak

Konsep Mind Mapping ini menjadi makin kuat dan disuka, setelah diketahui pula, ternyata tokoh-tokoh penting dunia, seperti Leonardo da Vinci, Newton, Darwin, Marie Curie, Thomas Jefferson, dan banyak lagi yang lainnya, juga menggunakan pola-pola mind map untuk mencatat hasil-hasil riset mereka, gagasan-gagasan penting, temuan-temuan atau pemikiran-pemikirannya.

Itulah perjalanan dari Mind Map, dimana awalnya adalah sebagai teknik mencatat. Bobby de Porter, dalam bukunya Quantum Learning, menyebutnya dengan Teknik Mencatat Tingkat Tinggi. Ketika, Quantum Learning diterjemahkan ke Bahasa Indonesia sekitar akhir 80-an atau awal 90-an, masuklah Mind Map ke Indonesia secara “perlahan”.

Tapi hingga lebih dari 10 tahun, perkembangan Mind Map di Indonesia kurang begitu menggembirakan, karena :

Mind Map masih dilihat sebagai teknik mencatat, seperti diasosiasikan pada buku Quantum Learning.

Kesederhanaan Mind Map, membuat banyak orang kurang tertarik, dan melihatnya hanya berguna untuk anak-anak dan pada saat di sekolah saja.

Pemerintah kita kurang care pada teknologi pengjaran atau teknologi belajar cara belajar (learn how to learn).

Praktis, Mind Map di Indonesia sangat ketinggalan dibanding di Eropa, Amerika dan Jepang, bahkan Singapura. Di negara-negara di Eropa, Amerika, Jepang dan Singapura, Mind Map, menjadi ketrampilan wajib siswa-siswa sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi.

Sementara pemerintah kita masih berkutat dan ribut sendiri dengan soal ujian nasional perlu atau tidak, kurikulum yang sering gonta-ganti. Mendiknas ganti, kurikulum ya ganti. Sementara, kurikulum kita masih condong kepada konsumsi pengetahuan, yang pengajarannya pun lebih banyak dengan menghafal. Karena itu, pendidikan di Indonesia tidak maju-maju. Kalau toh, ada putra-putra Indonesia juara di ajang olimpiade science internasional, itu bukan karena hebatnya sistem pendidikan kita.

Dengan kurikulum yang ada sekarang, sangat diragukan dapat mendorong bangsa kita berkontribusi untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Teknologi pengajaran, learn how to learn, seperti Mind Map, kurang mendapat perhatian yang memadai. Padahal, Mind Map, sebagai tools otak yang mampu meningkatkan kapasitas otak, telah teruji dan terbukti sangat powerfull. Bahkan, perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Boeing, GE, Microsoft, Oracle, HSBC, dan banyak lagi yang lain menggunakan Mind Map untuk menunjang proses bisnis di perusahaan itu. Semua karyawan-karyawannya menguasai Mind Map, dan menjadi bagian dari kurang lebih 300Juta user di seluruh dunia.

Kembali ke Mind Map, dalam perkembangan lebih lanjut, ternyata Mind Map bukan saja teknik mencatat yang handal. Oleh penemunya, diyakini berdasarkan pengalaman puluhan tahun, Mind Map mampu mentransformasikan seseorang dari ordinary people menjadi extra-ordinary people.

Ya, karena Mind Map melibatkan kedua belah otak kita. Apabila kedua belah otak, otak kiri dan otak kanan, terlibat secara bersama-sama pada saat kita berpikir atau mencari solusi saat menghadapi masalah, sesungguhnya kita sedang berpikir seperti komputer yang super canggih. Seseorang akan, meminjam Bobby de Porter, mengalami lompatan (quantum) sehingga menjadi lebih kreatif, inovatif, daya ingat lebih kuat, dan tentu saja pada akhirnya tidak gampang putus asa. Sesuatu yang sangat dibenci oleh Tuhan.

Kenapa Perlu Belajar Mind Map

Mind Map perlu dan harus diajarkan atau dipelajari oleh siapa saja, berapapun usianya, bahkan sejak usia sedini mungkin, termasuk Balita (tentu dengan teknik-teknik tertentu).

Dengan mengenalkan Mind Map sejak dini yang dilanjut pada SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, dan seterusnya, hal itu akan dapat memelihara tingkat kreativitas seseorang hingga dapat bertahan lama.

Penelitian (Tony Buzan, 2009) menyatakan bahwa tingkat kreativitas seseorang menurun seiring dengan bertambahnya usia. Saat masih bayi, tingkat kreativitasnya masih sekitar 95%. Saat usia SD tingkat kreativitas menurun menjadi 75%. Di usia SMP, menurun lagi menjadi 50%. Di usia SMA, tingkat kreativitas seseorang tinggal 25%. Dan pada saat mereka masuk perguruan tinggi, menurun lagi menjadi sekitar 10%. Itu sebabnya, kita sangat tidak produktif.

sumber : btlegowo.wordpress.com