Kisah Qorun

Kisah Qorun

Kisah Qorun

Qorun adalah kaumnya Nabi Musa, Qorun adalah seorang yang sombong lagi congkak serta berbuat aniaya terhadapa sesamanya. Karena kekayaan yang melimpah ruah, gudang-gudang yang tak terhitung banyaknya, sampai-sampai kunci gudang tersebut tidak kuat dibawa oleh sejumlah orang yang kuat sekalipun.

Dari kekayaan yang dimilikinya, Qorun beranggapan bahwa semua itu adalah dari hasil jerih payah nya sendiri. Sehingga ia lupa bahwa semua itu adalah Qorunia dari Alloh SWT.

Tanpa adanya anugerah dan Qorunia yang demikian itu Qorun tidak akan bisa menjadi kaya, oleh karena Qorun memiliki pemikiran yang sedemikian maka Alloh SWT menumpas Qorun beserta kekayaanya tertimbun dalam tanah. Firman Alloh SWT dalam surat Al Qashash ayat 76-80 sbb:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (٧٦) وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (٧٧) قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (٧٨) فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ      (٧٩) وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلا يُلَقَّاهَا إِلا الصَّابِرُونَ (٨٠

76. [1]Sesungguhnya Qorun termasuk kaum Musa[2], tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka[3], dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat[4]. (Ingatlah) ketika kaumnya[5] berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga[6]. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.”

77. [7]Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu[8], tetapi jangan lupakan bagianmu di dunia[9] dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi[10]. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

78. Dia (Qorun) berkata[11], “Sesungguhnya aku diberi harta itu, semata-mata karena ilmu yang ada padaku[12].” [13]Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?[14] Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka[15].

79. [16]Maka keluarlah dia (Qorun) kepada kaumnya dengan kemegahannya[17]. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia[18] berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar[19].”

80. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu[20] berkata[21], “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah[22] lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh[23], dan (pahala yang besar)[24] itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar[25].”

Begitulah manusia yang selalu membanggakan amal perbuatannya, kemudian berbuat sombong dan semena-mena terhadap sesama manusia, dengan bangga bahwa harta kekayaannya adalah segala-galanya dan dapat menyelamatkan dirinya.

Mari kita belajar dari contoh tauladan Nabi Sulaiman, ketika diQoruniakan kekayaan dan ilmu pengetahuan, Kisah nya ditulis dalam Al Qur’an surat An Naml ayat 40 :

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (٣٨)قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (٣٩) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (٤٠) قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لا يَهْتَدُونَ (٤١) فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ  (٤٢) وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَعْبُدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كَافِرِينَ (٤٣) قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ      (٤٤)

Terjemah Surat An Naml Ayat 38-44

38. Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?”

39. Ifrit[19] dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu[20]; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya[21].”

40. Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab[22] berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip[23].” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata[24], “Ini termasuk karunia Tuhanku[25] untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar[26], maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya[27] lagi Mahamulia[28].”

41. Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah[29] untuknya singgasananya; kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenal; atau tidak mengenalnya lagi[30].”  

42. Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, “Seakan-akan itulah dia[31].” (Dan dia berkata)[32], “Kami telah diberi pengetahuan[33] sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

43. Dan kebiasaannya menyembah selain Allah[34], mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), sesungguhnya dia (Balqis) dahulu termasuk orang-orang kafir.”

44. [35]Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya[36]. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca[37].” Dia (Balqis) berkata[38], “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku[39]. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Demikianlah kisah Qorun, agar dapat menjadi pelajaran untuk kita semua. Rezeki sudah diatur oleh Alloh SWT, tersedia untuk seluru ummat manusia, kisah Qorun disini ia pintar dalam menjemput rezeki nya tetapi lupa kepada sang pencipta yang maha kaya, sehingga menjadi sombong.

Kisah Qorun juga memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa kekayaan itu bisa diraih karena sudah tersedia untuk ummat manusia, raihlah dengan cara yang mulia yang membahagiakan sesama.