Mengatasi Rasa Takut Untuk Melangkah

#mentorsays
Banyak orang terpenjara oleh rasa takut untuk melangkah, sehingga mengubur mimpinya dalam-dalam dan melupakan impian awal untuk mengikuti pergerakan kebanyakan orang.

Saya tidak menyalahkan Anda yang memiliki pemikiran seperti itu, tapi saya akan share sebuah pidato Jim Carrey, comedian Amerika Serikat yang pernah disampaikan di hadapan para wisudawan Maharisi University of Management. Isinya sangat mencerahkan,tapi sebelum membacanya, saya sarankan untuk duduk santai dan resapi isinya secara mendalam, berikut pidato beliau:

“Hidup bukanlah sesuatu yang terjadi pada dirimu, melainkan sesuatu yang terjadi untukmu.
Bagaimana saya bisa mengetahui ini?

Dulu saya selalu menganggap bahwa Jim Carrey adalah

Hanya sekerlip cahaya kecil
Hanya sebuah bayangan yang menari
Hanya pemanah yang terluka oleh panahnya sendiri
Memohon untuk diperbudak dan
terbutakan kerinduan untuk tersandung ke surge

Rasa takut akan selalu ada dalam dirimu, walaupun dirimu sendiri yang menentukan seberapa besarnya ketakutan itu. Sepanjang hidup kamu bisa membayangkan hantu dan mengkhawatirkan jalan menuju masa depan. Namun apa yang akan selalu terjadi bergantung pada keputusan yang kita buat saat ini. Keputusan yang kita dasarkan pada cinta atau rasa takut.
Kebanyakan dari kita memilih jalan hidup atas dasar perasaan takut dengan alasan kepraktisan.

Ayah saya sesungguhnya bisa menjadi seorang komedian yang sangat hebat. Sayangnya dia tidak percaya itu mungkin terjadi dan kemudian mengambil pilihan hidup yang konservatif. Dia memilih ‘pekerjaan yang aman’. Sewaktu usia saya 12 tahun, beliau dipecat. Akibatnya keluarga kami harus melakukan berbagai cara supaya bisa bertahan hidup. Dari situ saya belajar banyak. Salah satunya adalah, kamu bisa gagal dalam melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Jadi kenapa tidak sekalian saja mengambil resiko melakukan apa yang kamu cintai?

Saya mulai ‘acting’ sejak kecil. Orang-orang yang datang ke rumah akan menemukan saya sebagai seorang anak 7 tahun yang menjatuhkan diri dari anak tangga paling atas. Ketika mereka bertanya, “apa yang terjadi?” Saya pun menjawab, “Aku tidak tahu, mari kita lihat saja tayangan ulangnya,” jawab saya sambil naik kembali ke tangga teratas dan menjatuhkan diri lagi dengan efek slow motion.

Ketika usia saya 28 tahun, saya sudah menjadi seorang komedian profesional selama satu dekade. Saat itulah saya menemukan tujuan hidup, yaitu saya akan membebaskan orang-orang dari segala keprihatinannya.

Apa tujuan hidupmu? Bagaimana kamu akan berkontribusi pada dunia? Apa yang dunia butuhkan dari bakatmu? Temukanlah jawabannya. Berdasarkan pengalaman hidup, saya memahami bahwa dampak dari diri kita yang terdapat pada orang lain, sesungguhnya merupakan nilai tukar yang paling bernilai di dunia.

Semua yang bisa kamu raih akan membusuk dan hancur, kecuali apa yang ada di hatimu. Keputusan saya untuk membebaskan orang-orang dari keprihatinannya telah membawa saya ke puncak gunung kehidupan tertinggi. Lihatlah dimana saya sekarang berada. Lihatlah apa yang bisa saya lakukan. Kemanapun saya pergi, saya melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain menampilkan sisi terbaik dari dirinya.

Kita bukanlah avatar yang kita ciptakan. Kita bukanlah gambar di atas pita film. Kita adalah cahaya yang menerangi gambar itu. Saya sering berharap orang-orang dapat mewujudkan impiannya menjadi kaya dan terkenal. Supaya mereka sadar bahwa sesungguhnya bukan disitu mereka bisa mendapatkan hidup yang benar-benar utuh.

Seperti orang-orang lain, saya pun ingin menjadi ‘lebih besar’ dari diri saya sendiri. Sampai kemudian seseorang yang lebih cerdas dari diri saya membuat saya sadar bahwa tidak ada yang ‘lebih besar’ dari diri saya sendiri.

Jiwa saya tidak ditampung oleh keterbatasan tubuh saya. Tubuh saya yang ditampung oleh keterbatasan jiwa saya. Ketika kamu sadari itu, maka bukannya kamu akan merasakan dunia, namun dunia yang akan merasakanmu. Dunia akan menyambutmu.

Segala sesuatu bisa diciptakan oleh pikiran kita. Imajinasi kita akan selalu menghasilkan skenario, baik maupun buruk, dan egomu akan menjebakmu dalam keruwetan pikiran. Mata kita bukan hanya untuk melihat, namun juga memproyeksikan cerita ‘kedua’ atas gambar yang kita lihat setiap harinya. Sayangnya, ketakutan Anda adalah penulis skenarionya dan judul ceritanya adalah, “Saya tidak akan pernah merasa cukup.”

Tugas kamu bukan untuk mencari apa yang akan terjadi padamu, melainkan membuka pintu pikiranmu sendiri. Ketika pintu-pintu terbuka dalam kehidupan nyata, maka masuklah kedalamnya. Jangan khawatir kalau kamu terlewat. Akan selalu ada pintu lain yang segera terbuka.

Ketika saya berkata, “hidup tidak terjadi PADA mu, hidup terjadi UNTUK mu”. Sesungguhnya saya tidak tahu apakah hal itu benar. Saya hanya memilih untuk melihat sisi positifnya, sehingga saya mampu menghadapi hidup dengan cara yang paling produktif.

Kamu adalah garda depan pengetahuan dan kesadaran; ombak baru dalam lautan kemungkinan. Di balik pintu itu, ada sebuah dunia yang haus akan pemimpin baru dan gagasan-gagasan baru.

Kamu sudah siap dan mampu melakukan hal-hal indah dalam hidup ini. Setelah hari ini kamu lewati pintu itu, kamu hanya punya dua pilihan: cinta atau rasa takut. Pilihlah cinta, dan jangan biarkan rasa takut mengkhianati hatimu yang penuh suka cita.”