Menjaga Perasaan Istri

MENJAGA PERASAAN ISTRI
Oleh : Lusiana Nurhermawati

Suatu ketika, seorang istri yang sedang dilanda rasa cemburu menumpahkan dengan sengaja nampan makanan yang hendak disajikan untuk tamu-tamu suaminya. Karena begitulah tabiat perempuan, manakala emosi sedang memenuhi perasaan maka logika tak lagi berjalan. Tak peduli banyak tamu di rumah, pokoknya ia sedang marah dan ingin ditunjukkannya perasaan itu di hadapan sang Suami.

Mafhum atas apa yang dirasakan istrinya, sang Suami hanya berujar di hadapan tamunya,
“Ibumu sedang cemburu…”

Udah gitu aja 🙂

Tak ada ceritanya sang Suami memarahi istri demi ‘menyelamatkan’ harga dirinya di depan tamu.
Tak ada ceritanya sang Suami menghukum istri dengan alasan mendidik adab.

Tidak.

Sang Suami paham bahwa tulang rusuknya itu sedang cemburu, bukankah cemburu tanda cinta? Bukanlah tulang rusuk itu selalu bengkok? Maka untuk apa berlaku keras terhadapnya.

Itulah kisah bagaimana Rasul menjaga perasaan istrinya, Aisyah binti Abu Bakar.

Itu Rasul, kalau kita bagaimana?

Belajarlah mulai dari hal-hal kecil…

Manakala kita memiliki waktu untuk mendengar curhat lawan jenis, coba periksa hati dan diri kita;
Sudahkah kita mendengar dengan baik curahan hati istri?
Sudahkah kita memberikan kenyamanan atas perasaan istri?
Sudahkah kita memberikan waktu untuk sekedar romantis berdua bersama istri?
Jika belum, maka berhentilah memberikan waktu barang sedetik pun mendengar curhat dari lawan jenis. Karena tidak penting, tidak berpahala dan justru bisa mengundang dosa manakala kita terlalu lama berdua dengan lawan jenis meski pun dengan dalih menyelesaikan masalah yang sedang dicurhatkan.

Manakala kita memiliki waktu menolong lawan jenis, coba ketika hati dan diri kita;
Sudahkah kita menolong satu saja pekerjaan rumah istri?
Sudahkah kita setidaknya meringankan beban istri dengan memberikan fasilitas untuk meringankan bebannya?
Sudahkah kita mengetahui kerepotan apa saja yang dihadapi istri setiap hari?
Jika belum, maka hadirkan satu hari saja untuk melihat semua pengorbanan istri untuk kita. Sudah mengucapkan terima kasih atas semua yang dilakukan istri?
Jika belum juga, maka tak usah sok jadi pahlawan kesiangan untuk perempuan lain.

Manakala kita memiliki waktu mengagumi kecantikan lawan jenis yang foto selfinya bertebaran di dunia maya, maka ketika hati dan diri kita;
Sudahkah kita memuji kecantikan perempuan yang rela menghabiskan sisa hidupnya dengan lelaki macam kita?
Sudahkah kita melihat betapa ia rela secara jiwa raga mengalami ‘kerepotan’ tatkala hamil dan mengurus anak-anak kita?
Sudahkah kita menyediakan waktu dan kesempatan bagi istri untuk merawat diri?
Jika belum, maka tahan lisan dan hatimu untuk memuji kecantikan perempuan lain. Istri kita bukan pembantu yang bisa seenak hati kita tuntut mengurus ini itu tetapi kita abai akan kebutuhannya…kebutuhan untuk dimengerti dan dihargai.

Maka….
Ramah dengan orang lain boleh saja, tapi LEBIH berlemah lembutlah terhadap istri.
Baik terhadap orang lain silahkan saja, tapi LEBIH baiklah terhadap istri.

Seorang ulama pernah berujar,
“Aku heran….Mengapa banyak suami yang tega membentak, memukul, bahkan mengusir istrinya. Tidakkah mereka sadar bahwa perempuan mulia itu, sebelum bertemu dengan-nya, amat berbahagia bersama orang-orang yang mencintainya?”

“Aku bingung,” sambung ulama itu, “Mengapa banyak suami yang matanya tergoda dengan paras yang lebih jelita. Padahal di rumah, ke dua matanya, setiap detik melihat dengan jelas kebaikan-kebaikan istrinya.”

Sungguh sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik akhlaknya terhadap keluarga.

——

Istri adalah perempuan kedua yang harus dijaga perasaannya oleh suami.
Lantas siapa perempuan pertama?
Ibu…